“TRUE LOVE”
Judul :
True Love
Cast :
Kim Jongin, Do Kyungsoo
Genre :
Angst, hurt (Oneshot)
Rate : T
Author:
Kim Jong Soo 1214
Disclamer:
Typo bejibun. Author baru. Masih abal.
Summary:
Aku berjalan
melewati lorong ini. Lorong sempit ini. sedikit menutup hidungku ketika aroma
ini menyengat tajam. Sebenarnya aku tidak menyukainya. Tetapi ada satu alasan
dimana aku harus membiasakan dengan aroma ini. Yah,aroma yang selalu
mengingatkanku akan seseorang. Seseorang yang telah mencuri hatiku. Seseorang
yang selalu memberiku kekuatan. Seseorang yang membuatku mengerti mengapa aku
berdiri disini. Ditepi lorong sempit ini, berusaha menjadi penolong untuk orang
lain disaat aku tidak bisa menolongmu...
Aku
melangkahkan kaki panjangku menyusuri jalan setapak yang mulai memutih.
Yah...ini adalah salju pertama yang turun musim ini. Titik-titik salju yang
masih belum terlalu lebat turun dengan indahnya. Sejenak aku menghentikan
langkahku. Menengadahkan tanganku untuk menagkap satu butiran es yang turun
dengan indahnya dari langit. Bagaimana bisa Tuhan menangis saat ini? Apakah Dia
merasakan apa yang aku rasakan? Apakah Tuhan mengetahui bagaimana kerinduanku
yang seakan membunuhku disetiap detik?
Aku
menghela nafas. Menciptakan uap hangat yang keluar dari hidungku. Kembali
menurunkan tangan kananku yang tadi menengadah keudara. Tangan kiriku membawa
sebucket bunga mawar merah yang merekah indah. Aku menatapnya sebentar.
Menampakkan senyum terbaikku. Yah,aku cukup senang bahwa Tuhan mengetahui
bagaimana perasaanku saat ini, hingga Tuhan menangis dari atas sana.
Aku
mulai melanjutkan langkahku yang sempat terhenti. Berjalan pelan seolah
menikmati udara dingin yang tiba-tiba menusuk tulangku. Aku tau udara ini
sangat dingin, namun aku tidak mengurungkan niatku untuk memakai pakaian terbaikku
hari ini. Setelan jas hitam dengan sepatu formal berwarna hitam. Bagaimana
tidak? Hari ini aku akan mendatangi kekasihku setelah sekian lama. Aku sangat
merindukannya.
Langkahku
terhenti saat tempat yang aku tuju telah berada tepat didepan mataku. Senyuman
terbaikku tak pernah lepas dari bibirku.
“Aku
datang, hyung. Bagaimana kabarmu? Miane, lama aku tidak mengunjungimu. Kau pasti
sangat sebal denganku ‘kan?”
Tidak
ada jawaban. Angin yang berhembus pelan seakan menembus berlapis lapis daging
ditubuhku. Aku tetap tersenyum. Aku sudah berjanji untuk tidak membuat hyung
kesayanganku ini kecewa padaku. Kukeluarkan bucket mawar merah yang tadi berada
dibalik punggung tegapku. Mengarahkan kedepan. Menyerahkannya padanya. Bukan,
lebih tepatnya menempatkan bucket mawar itu diatas gundukan tanah dengan
rerumputan hijau yang menutupi tanah itu. Titik-titik salju mulai memenuhi
rumput hijau yang tertata rapi diatas gundukan itu. Sangat kontras dengan mawar
merah yang telah tergeletak manis diatasnya. Yah..ini adalah makam
namjachinguku.
“Kau sudah datang?”
Dia,namja manis berkulit seputih
susu menyambut kedatanganku dengan senyum kecilnya. Aku membalas senyumnya.
Langkah ku mantabkan untuk masuk kekamarnya
dan mendekatinya.
“Nde. Bagaimana kabarmu hari ini,
hyung?” tanyaku tanpa mengurangi senyumku. Tanganku terangkat untuk meraih pipi
gembilnya. Mengelusnya lembut. Menyalurkan sedikit kehangatanku padanya.
“Aku baik-baik saja,Jongin-ah”
senyum manis tak lepas dari bibir merahnya. Walaupun aku tau bahwa dia tidak benar-benar dalam keadaan baik-baik
saja.
Aku cukup mengetahui bagaimana
hyung kesayanganku ini. Dia akan berpura-pura tegar didepanku walaupun dia akan
menangis sesenggukan pada malam harinya. Entah, aku merasakan ada sesuatu yang
dia sembunyikan dariku selama ini.
“Syukurlah” aku tersenyum getir menyadari
perubahan raut wajah nama manis didepanku ini.
Hening menyelimuti ruangan dengan
nuansa putih disetiap sudutnya. Membuatku merasa sedikit canggung. Bagaimana
tidak, selama tanganku masih setia mengelus halus pipi gembil milik namja manis
ini, tatapan matanya tak lepas dari wajahku. Apakah wajahku terlihat aneh
untuknya? Entahlah..
“Jongin-ah,apa kau mau
mengantarkanku kesuatu tempat?” tanyanya sedikit ragu.
“Mau kemana, Kyungsoo hyung?”
tanyaku sambil menatap tajam mata hitam itu. Aku menangkap tatapan matanya
yang menyiratkan rasa memohon. Membuatku
tidak bisa berkata’tidak’ padanya.
.
.
Dan disinilah kami sekarang.
Dihalaman belakang Rumah Sakit tempat Kyungsoo hyung dirawat. Aku mendorong
kursi roda itu dengan sangat pelan. Menikmati hembusan angin yang menerpa kulit
wajahku. Bulan ini sedang musim salju. Udara dingin seolah mengingatkanku untuk
segera masuk kedalam ruangan yang lebih hangat. Namun pikiran itu kutepis jauh-jauh
mengingat namja bertubuh mungil yang tengah berada diatas kursi roda ini yang
memintaku mengantarnya kesini.
Aku menghentikan kursi roda itu
tepat didepan taman Rumah sakit. Hanya didepan taman. Karena aku tidak berani
membawa tubuh mungil namja itu jauh keluar. Cukup sadar dengan kondisi namja
imut itu sekarang.
Setelah cukup puas dengan posisi
yang tepat karena Kyungsoo hyung dapat melihat bagaimana salju turun memberikan
kesejukan dihatinya. Aku mendudukkan diri dikursi yang berada disamping
Kyungsoo hyung. Menolehkan wajahku untuk mengamati bagaimana senyum manis itu
terpancar dari bibir mungilnya. Aku tersenyum. Kuangkat tanganku , meraih jaket
tebal yang tengah dikenakannya. Membenarkan jaketnya yang belum diresletingkan
dengan sempurna agar namja manis itu merasa hangat. Udara begitu menusuk. Dapat
kurasakan bagaimana tulang-tulangku terasa seperti membeku.
“Jongin-ah” suara pertama darinya
setelah keluar dari kamar rawatnya.
“Emm” hanya deheman yang
kuberikan. Menjawab panggilan namja manis itu.
“Apa kau tau, kenapa salju
berwarna putih?”
Aku berpikir sejenak dengan
pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari bibir mungilnya. Membuatku sedikit merasa
aneh dengan situasi yang dia ciptakan.
“Tidak” jawabku singkat.
“Apa kau pernah berpikir bahwa
Tuhan itu bisa menangis?”
“Tidak. Kurasa Tuhan hanya tau
kesenangan”
“Kau salah Jongin-ah” dia menjeda
perkataanya. “Jika kau berfikir bahwa hujan itu adalah tangisan dari para dewa
maka kau salah. Karena hujan adalah tangisan dari Tuhan”
Aku mengernyitkan dahiku tidak
mengerti dengan apa yang dia katakan. Aku semakin menajamkan pendengaranku
dengan mataku yang masih terfokus pada namja yang tengah menikmati rintik salju
yang berjatuhan. Bahkan matanya tidak menoleh kearahku sama sekali. Mungkin dia
terlalu asik menikmati suasana ini.
“Kau tau, jika salju akan turun
saat musin hujan sudah tidak datang lagi. Itu karena Tuhan masih merasa sedih.
Dia ingin menangis tetapi tangisnya ini jauh lebih menyakitkan”
“Kau berfikir bahwa salju adalah
tangisan Tuhan, hyung?”
“Emh” matanya masih belum
menatapku. Terlihat kosong dan hampa. Aku semakin bingung dengan arah
bicaranya. Apa maksudnya dengan hujan dan salju?
“Satu titik salju adalah satu
titik air mata Nya Jongin-ah. Tuhan
merasa bersalah dengan manusia. Dia menciptakan begitu banyak manusia dengan
beribu kesenangan, berjuta kesedihan, bermiliyar kehidupan, dan bertriliyun
kematian” ucapnya dengan nada yang mulai bergetar. Dia menjeda sebentar
kalimatnya sebelum dia mlanjutkannya kembali.
“Dia menyesali penciptaaNya
dengan tangisNya sebagai hujan. Dan Dia ingin melindungi manusia dengan
mengungkapkannya melalui salju yang putih bersih. Semua orang pasti akan mati
Jongin-ah. Itu sudah tidak dapat dihindari lagi. Karena Tuhan berfikir, Dia
akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah Dia ciptakan” kristal bening
meluncur melalui kedua belah pipi gembilnya. Tidak ada isakan disana. Hanya
tangisan dalam diam.
“Kau bicara apa, hyung? Kau pasti
akan sembuh” kataku mencoba menguatkan hatinya. Aku tau kemana arah bicaranya
sekarang. Ini sudah terjadi sangat lama.
Ya,lama bagiku untuk meyakinkankan namja mungil ini agar percaya dengan
kemampuan dokter spesialis disini. Sungguh, aku tidak kuat menahan diriku.
Kurengkuh tubuh mungilnya yang mulai bergetar. Bukan, dia bukan bergetar karena
dingin yang semakin menusuk tulang. Tapi getaran yang dihasilkan dari dirinya
yang sekuat tenaga menahan tangis dan isakannya.
Dia mendorong pelan tubuhku.
Sedikit memberi ruang untuknya menatap wajahku.
“Ini sudah sangat lama Jongin-ah”
“Tidak, Hyung!” aku mulai
meninggikan volume suaraku.
“Aku mohon Jongin-ah. Tinggalkan
aku. Aku hanya ingin sendiri. Aku tidak mau membuatmu sakit hati” mata indah
itu kembali mengeluarkan kristal beningnya. Aku benci saat-saat seperti ini.
“Aku harus mengatakan berapa kali
agar kau percaya, hyung?!
“Aku percaya Jongin. Tapi hatiku
berkata lain dengan otakku”
“Kenapa, hyung? Apa kau tidak
mencintaiku? Kau anggap apa aku selama ini hyung?!” sungguh aku tidak tahan
lagi.
“Aku mencintaimu. Sangat. Bahkan
lebih dari diriku sendiri”
“Lalu kenapa, hyung?”
“KARENA AKU AKAN MATI, JONGIN!”
dia berteriak dengan segala emosinya. Aku sangat tau bagaimana perasaannya saat
ini. Sudah terlalu sering dia mengatakan hal ini. Membujukku agar mau
meninggalkannya dan menikahi Luhan, namja manis yang baik hati yang menjadi
sahabat dekat Kyungsoo hyung.
“Tidak, hyung. Aku mencintaimu,
bukan Luhan!” kutatap tajam mata indahnya. Menyalurkan perasaanku untuk
membuatnya percaya bahwa aku sungguh sangat mencintainya.
“Aku tidak akan bisa melihat
wajahmu lagi Jongin. Aku akan buta. Dan mati” entah sudah air mata keberapa
yang dia keluarkan hari ini. Sungguh, ini sangat mebuat hatiku sakit. Melihat air
matanya terbuang sia-sia hanya karena namja brengsek sepertiku yang tidak bisa
melindungi hati dan perasaannya. Kurengkuh kembali tubuh mungilnya yang
bergetar hebat akibat tangisnya. Aku merasa bersalah. Entah apa yang sudah aku
perbuat hingga menyakiti hati namja yang sangat aku cintai ini.
“Percayalah padaku, hyung. Aku
akan tetap disampingmu, menamanimu dan menjagamu sekuat yang aku bisa. Aku
berjanji” kubisikan kata-kata manis itu ditelinganya. Dia masih terdiam dalam
tangisnya. Kulepaskan rengkuhanku perlahan. Melihat bagaimana mata indah itu
mengeluarkan kristal bening yang tak juga berhenti mengalir. Kutangkupkan kedua
tanganku dipipi gembilnya. Kukecup kedua mata indah itu. Menyesap sisa air mata
yang menempel disetiap sudutnya. Dia memejamkan matanya. Menikmati sentuhan
lembut yang kuberikan. Kedekatkan wajahku hingga tak ada lagi jarak yang
tersisa. Menempelkan bibirku pada belahan manis bibirnya. Kupegang tengkuknya
untuk memperdalam ciumanku. Mulai kulumat lembut bibir manisnya. Dia masih
diam. Tak ada balasan dari ciuman lembutku. Kurasakan lelehan bening dan hangat
meluncur bebas dikedua pipiku. Entahlah, bagaimana bisa air mata ini menetes
disaat aku tengah menikmati hangat bibirnya.
Kyungsoo hyung membuka kedua
matanya perlahan. Bibir ku masih ketempelkan pada bibirnya. Memberikan
lumatan-lumatan halus sarat akan cinta dan kehangatan. Dia melepaskan tautan
manis itu. Menciptakan benang saliva antara kedua bibir yang sudah memerah. Dia
menatapku tajam. Menghapus air mata yang meleleh begitu saja dari kedua mataku.
Entahlah, apakah aku masih pantas menangis dengan segala kebodohanku yang telah
melukai hati namja manis didepanku ini. Aku merasakan halus tangannya menyapa
kulit pipiku. Hangat.
“Saranghae, Kim Jongin”
Deg
Deg
Deg
Sungguh aku sangat ingin
berteriak sekencang yang aku bisa. Bagaimana mungkin ini semua terjadi?
Mendengarnya mengatakan kata cinta yang sudah lama tidak dia ucapkan padaku.
Bahkan aku sempat ragu apakah dia masih mencintaiku atau tidak. Tapi sekarang,
semua keraguanku terjawab. Dia masih sangat mencintaiku. Aku dapat
merasakannya.
“Nado, Saranghae Do Kyungsoo”
senyuman manis, ah bukan lebih tepatnya aku memberikan senyuman terbaikku saat
ini. Melihat bibir mungilnya memperlihatkan senyum tipis. Tapi itu sudah cukup
membuktikan seberapa dia mencintaiku.
.
.
“Apa kau
marah padaku, hyung? Miane, aku sibuk akhir-akhir ini. Kau tau, sekarang aku
sudah menjadi dokter spesialis kanker mata seperti cita-citaku” aku tersenyum
cerah menceritakan kisahku pada gundukan tanah didepanku ini. mencoba
menyalurkan apa yang aku rasakan padanya. Pada kekasihku yang tengah berada
disurga.
“Bagaimana
hidupmu saat ini, hyung? Apa kau bahagia? Apa kau makan dengan baik disana?
Ahh..aku rindu masakanmu, hyung” setetes lelehan hangat turun dari pipiku.
Entahlah,sekian lama sejak kematian Kyungsoo hyung hingga saat ini aku tidak
bisa begitu saja melupakannya. Bahkan masakan yang selalu menggugah seleraku,
lembut tangannya yang selalu membelai rambutku, hangat bibirnya saat menyentuh
bibirku masih sangat terasa hingga saat ini.
Lelehan
bening ini tidak dapat aku tahan lagi. Semakin meluncur deras saat
kepingan-kepingan memori itu berputar kembali dipikiranku. Bagaimanapun aku
sangat mencintainya. Walau kini jarak yang tak kasat mata memisahkanku dan dia.
Tak ada kata putus,tak ada kata pisah, hanya jarak. Jarak yang mungkin tidak
dapat kutempuh dengan akal dan logikaku. Seberapapu jauhnya itu, aku akan
bertahan. Menanti saat pertemuanku dan dia. Seberapapun lamanya. Seberapapun
menyakitkannya. Akan kubawa cinta yang hanya untukmu hyung. Akan abadi dalam
hatiku. Akan abadi hingga maut memanggilku untuk bertemu denganmu.
“Saranghae,
Do Kyungsoo”
END.
Kyaaa...ini
FF pertama author yang sukses dibuat dengan genre Angst. Huahh...setelah dibaca
berkali-kali tetep aja air mata ini tak bisa terbendung *apasih?
Tinggalkan
jejak ne. Gomawo untuk para readers yang mau mampir diblog author. Ini FF masih
abal banget. Jadi miane kalau ada yang gak dapet feel nya. Haha... *ketawa
nista
FF-nya bagus nusuk banget
BalasHapussemangat terus buat kak Dina Kartika
Gomawo review nya
BalasHapus