Sabtu, 09 Januari 2016

Sacrifice | Kaisoo | Yaoi | Kim Jong Soo 1214


Cast : All member EXO
Genre : Romance, Fantasy
Rate : T / akan meningkat seiring jalannya cerita
Author: Kim Jong Soo 1214


Disclamer: Saya akui bahwa EXO itu cuma milik Tuhan YME, Orang tua, dan SM Ent. Saya cuma minjem nama doang untuk kepentingan cerita. Tidak ada plagiat sama sekali,karna fic ini murni dari hasil pemikiran author.
Warning : YAOI (boyxboy), Typo (s), alur gaje, abal.



Summary:
Aku tidak tau apa yang aku rasa, hanya saja aku merasa dimanfaatkan oleh orang-orang. Bagaimana denganmu? Kau melupakan fakta dari makluk apa kita berasal...



Kim Jong Soo 1214




Present





“Brengsek!” namja mungil itu memukul tepat diwajah tampan namja berkulit tan didepannya. Tak menghiraukan cairan pekat berbau anyir menguar dari sudut bibirnya. Bagaimanapun juga Kyungsoo seorang namja. Bahkan dia bukan namja biasa. Jangan salah, tangan mungilnya memiliki tenaga yang kuat sekedar untuk meremukkan wajah namja tan itu.
Nafasnya terengah-engah menahan amarah yang sepertinya telah berada diubun-ubun. Mata bulatnya menatap tajam seolah mengintimidasi. Sedangkan Jongin-namja dengan kulit tan itu hanya menatapnya kosong.
“Apa yang kau lakukan, bodoh! Dimana otakmu!” Kyungsoo memaki Jongin yang masih tak bergeming. Oh ayolah,ini bukan saat yang tepat untuk melamun.
“Apa pedulimu?” demi Tuhan. Kyungsoo ingin meremukkan Jongin sekarang juga. Bisa-bisanya nada sedingin itu keluar dari bibirnya seolah sedang tidak terjadi apa-apa sekarang.
“Kau tidak bisa seperti ini! Kau bisa mati ditangan Kris!” yah,Kris adalah seorang calon penguasa dari Negeri Selatan, Negeri yang biasa disebut Zrash. Putra mahkota yang begitu disegani dengan sifat dinginnya. Rupa yang tampan, tubuh tinggi dengan kulit putih bersih, serta memiliki otak yang bisa dibilang diatas rata-rata. Cerdas sekaligus licik.
Zrash, adalah sebuah negeri dengan sejuta keindahannya. Negeri yang dilingkupi kekuatan beraura dingin. Tapi jangan berfikir jika Negeri ini adalah Negara es, kalian salah besar. Justru Negeri ini adalah Negeri yang sangat subur. Berjuta jenis tumbuhan tumbuh dengan mudah disana. Tanah yang seolah memberikan nyawa kepada tumbuhan dan makluk lain yang hidup disana. Bagaimana bisa? Itu semua berkat Kyungsoo. Dia adalah adik dari Kris. Dengan anugerah yang diberikan Tuhan untuk Kyungsoo, maka jadilah Kyungsoo sebagai pengatur dan pengendali negeri Zrash atas perintah Minho-Raja sekaligus Appa dari Kris dan Kyungsoo.
“Kau jangan ikut campur. Ini urusanku dengan Kris” masih dengan nada dingin dan tatapan kosong Jongin menjawab perkataan Kyungsoo.
“Kau tidak akan bisa melawannya, Jongin!” Kyungsoo bersikukuh meyakinkan Jongin. Sebenarnya bukannya Jongin tidak memiliki kekuatan untuk melawan Kris. Justru Jongin memiliki kekuatan yang bisa dibilang sama dengan Kris. Bagaimana tidak? Jongin adalah seorang putra mahkota dari Ord, negara yang memiliki aura hangat, berbeda dengan Zrash. Hanya saja sekarang Jongin sedang berada dibawah pengawasan Raja Joonmyun, ayah dari Jongin.
Dengan alasan bahwa Jongin sedang berada dalam masa percobaan untuk menjadi seorang penerus Raja Joonmyun, maka dari itu segala kekuatan yang ada didalam diri Jongin sedang ditahan. Bukan tanpa alasan. Raja Joonmyun menginginkan Jongin memulai ‘petualangannya’ dengan naluri manusia, bukan naluri serigala.
Perlu kalian tau, yang dimaksud dengan ‘petualangan’ adalah  mengirimkan mereka yang menjadi keturunan kerajaan pada masing-masing Negeri untuk disebar kebumi. Kalian ingin tau alasannya? Jawabannya sangat klasik, hanya untuk membuat para keturunan bisa merasakan bagaimana cara bersosialisasi dan mengontrol kekuatan mereka dengan baik. Oleh sebab itu, mereka berusaha sekuat mereka untuk hidup dan menjalani semuanya selayaknya manusia. Bekerja, sekolah, bahkan melakukan hal-hal yang biasa manusia lakukan. Seks? Itu juga termasuk.
“Kau meremehkanku? Oh,aku lupa. Kau adalah seorang penghianat yang sedang memata-mataiku bukan?” seringaian muncul dari bibir Jongin. Nada dingin masih lekat disetiap kalimatnya.
“Bodoh! Dimana otakmu? Aku rasa kau sudah kehilangannya” balas Kyungsoo tak kalah sinis. Mata Jongin menatap Kyungsoo tajam dan sangat intens. Sangat terlihat raut kemarahan disana. Tangan kokohnya terkepal kuat hingga membuat buku-buku jarinyanya memutih. Secepat kilat Jongin mendekati Kyungsoo dan mencengkeram kerah bajunya membuat Kyungsoo mendelik dengan raut kaget yang sangat ketara diwajahnya. Oh,ayolah Kyungsoo, apa kau lupa dengan Teleport milik Jongin. Seharusnya kau tidak sekaget itu.
“Kau tak seharusnya menjadi penghianat untuk kakakmu sendiri, Kyungsoo” mata Jongin semakin memerah menandakan bahwa kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun. Sebenarnya Kyungsoo sedikit takut dengan sikap Jongin sekarang. Tapi sekuat tenaga Kyungsoo menahan dirinya agar tidak bergetar. Kyungsoo memejamkan mata bulatnya sebentar untuk kemudian membukanya kembali. Menunjukan raut wajah yang lebih tenang. Yah, walau bagaimanapun juga Kyungsoo harus mengalah saat ini. Jangan sampai Jongin melakukan tindakan bodoh padanya karena hal itu akan memperburuk keadaan.
“Sebenarnya apa yang kau mau Jongin! Kau terus saja mengganggu. Apa kau sudah bosan hidup?” Oh Kyungsoo sepertinya kau salah menyusun kalimat. Itu bukan kalimat agar Jongin bisa lebih tenang, justru kau akan lebih merusak emosi Jongin.
Dan benar saja,Jongin semakin mempererat  cengkeraman pada kerah baju Kyungsoo lebih tepatnya seragam sekolahnya karena saat ini mereka masih didalam lingkungan sekolah. Jongin berani melakukan aksi brutalnya pada Kyungsoo karena dia tau bahwa sekolah sudah sepi. Dan siapa yang mau berlama-lama disebuah sekolah dengan aura aneh sejak kedatangan makluk-makluk tak terduga macam Jongin dan Kyungsoo?
“Jongin kau jangan bodoh. Kau lupa dengan tujuan kita kebumi, eoh? Kau tidak seharusnya terlibat dengan urusan manusia” terang Kyungsoo dengan pandangan tetap terarah pada kedua iris hitan Jongin. Tatapan Kyungsoo sudah tidak sinis seperti tadi. Lebih memancarkan aura hangat agar Jongin mau mendengar ucapannya. Dan benar saja tatapan mata bulat Kyungsoo sedikit memberi efek pada Jongin. Tatapan Jongin sedikit melunak. Tangan yang tadinya mencengkeram kuat kerah kemeja Kyungsoo pun mengendur.
Dan sekarang dapat Kyungsoo lihat tangan kokoh Jongin melemas dikedua sisi tubuhnya. Ingin rasanya Kyungsoo memeluk Jongin, memberikan kehangatan dan kekuatan untuk hatinya. Tapi niatnya ia urungkan ketika telinganya mendengar sebuah suara yang menginterupsi keduanya.
“Hyung” sesosok tinggi dengan kulit seputih susu tengah mendekati Kyungsoo dan Jongin. Mata tajamnya memandang Jongin dengan raut ketidaksukaan. Kemudian beralih memandang Kyungsoo.
“Apa yang sedang kau lakukan disini? apa dia menyakitimu?” Sehun-namja dengan kulit seputih susu itu bertanya dengan nada sedikit khawatir. Yah,bagaimanapun juga sekarang Kyungsoo sedang bersama Jongin si makluk labil. Sedangkan Sehun tau benar bagaimana sifat Jongin. Keras dan kaku.
“Sehun, kau masih disini?” Kyungsoo malah balik bertanya tanpa berniat menjawab pertanyaan Sehun.
“Hmm, sebaiknya kau segera pulang. Ada seseorang yang sedang menunggummu” jawab Sehun singkat tanpa mengurangi tatapan tajamnya kearah Jongin. Kyungsoo hanya mengangguk dan mulai berjalan meninggalkan Sehun dan Jongin disana. Kyungsoo tau, jika Sehun sudah mengeluarkan tatapan seperti itu, berarti ia sedang dalam urusan besar dengan Jongin.
“Kau menyakitinya?”tanya Sehun dingin. Jongin tidak berniat memandang Sehun. Menurutnya Sehun tak lebih dari seorang anak kecil pengganggu.
“Apa pedulimu?” jawabnya tak kalah dingin
“Kau akan berurusan denganku jika itu terjadi” Sehun segera melangkahkan kaki panjangnya meninggalkan Jongin tanpa berniat untuk memandangnya lagi. Sedangkan Jongin, dia hanya mengeluarkan seringaian. Sungguh, tidak ada yang tau bagaimana jalan pikiran Jongin. Bahkan orangtuanya sekalipun.
.
.
.
Kyungsoo berjalan dengan langkah mantab menuju rumahnya. Yah, rumah sementara selama ia tinggal di bumi. Kyungsoo hanya tinggal bersama Chanyeol, seorang putra mahkota dari negeri Xiand. Berbeda dengan Zrash dan Ord yang memiliki hubungan antar Negari yang kurang baik, Xiand adalah sebuah Negeri yang menjadi penengah. Tidak berada dipihak Zrash maupun Ord, berada ditengah-tengah dan tidak segan-segan membantu salah satu Negeri itu jika membutuhkan bantuannya.
Langkah Kyungsoo semakin ia percepat ketika instingnya merasakan aura berbeda dari biasanya. Ini terasa sangat kuat dan sedikit mencekam. Kyungsoo tau aura ini adalah dari seorang penguasa Zrash, siapa lagi kalau bukan Minho.
“Appa” sapa Kyungsoo setelah ia berada didalam rumahnya. Menemukan sesosok tinggi dan tampan dengan senyum mengembang dibibirnya. Aneh, tidak biasanya Minho bersikap seperti itu. Yang Kyungsoo tau, Appa-nya ini mempunyai sifat seperti Kris, dingin dan tegas.
“Kyungsoo, bagaimana kabarmu?” oh, ini semakin aneh. Dari mana Appa-nya ini belajar berbasa-basi? Dan dimana para pengawal serta pendamping Appa-nya?
“Ada perlu apa Appa kesini?” Kyungsoo mencoba menanyakan langsung pada pokok permasalahan. Kyungsoo tau, jika Appa-nya sudah menemuinya secara langsung, memasang senyum aneh, dan berbasa-basi padanya itu adalah sebuah tanda bahaya. Kenapa? Karena sifat itu sangat jauh dari sifat sebenarnya dari Minho.
“Duduklah dulu. Appa dan Tao sengaja menemuimu untuk mmbicarakan sesuatu padamu” Oh, baiklah. Sepertinya Appa-nya sudah kembali normal. Nada bicaranya pun sudah kembali berwibawa seperti biasanya. Dan apa tadi Appa bilang? Tao? Sejak kapan makluk Panda itu berdiri disebelah Appa-nya? Dan tunggu, dimana Chanyeol? Banyak pertanyaan yang mengganggu kepalanya.
Kyungsoo mencoba mendudukkan dirinya pada sofa dengan mata yang tak lepas dari wajah sang Appa dan Tao. Perasaannya mulai merasa tidak enak ketika mata bulatnya menemukan si Panda jadi-jadian itu terus memasang senyum lebar dibibirnya.
“Ahh...aku merindukan suasana ini. Sepertinya kehidupan dibumi masih sama seperti dulu” suara tenang yang terlontar dari mulut Minho berhasil mengalihkan perhatian Kyungsoo yang dari tadi memikirkan hal-hal aneh mengenai dirinya.
“Apa ada yang serius sehingga Appa datang menemuiku?” tanya Kyungsoo tanpa basa-basi lagi. Mata hitam kecoklatan dan tajam milik Minho segera menoleh dan memperhatikan putra keduannya itu. Senyum tampan dari bibirnya ia sunggingkan sebagai kode jawaban dari pertanyaan Kyungsoo.
Minho tau bahwa putra keduanya ini tidak suka berbasa-basi. Sifatnya boleh dibilang lebih manis dari Kris, dan itu membuat Minho menyayangi Kyungsoo lebih dari Kris. Tentu saja karena Kyungsoo adalah seorang putra kedua yang berarti masih ‘kecil’ dan perlu dilindungi menurut Minho.
“Ini tentang pertunanganmu, Kyungsoo” Minho mulai mnyamankan duduknya dan memandang Kyungsoo lekat-lekat. Dan tentu saja perkataan Appa-nya itu membuat Kyungsoo mendelik tak percaya. Appa-nya bilang pertunangannya? Yang benar saja.
“Pertunangan?” Kyungsoo mengulang kalimat itu seolah memastikan apakah Appa-nya itu salah bicara. Dan Kyungsoo menatap Tao yang masih saja tersenyum-senyum. Apalagi saat mlihat ekspresi Kyungsoo yang sangat lucu membuatnya menahan tawa yang Kyungsoo tau pasti akan meledak jika Minho tidak ada disana sekarang.
“Ya. Pertunangan putra kedua Negeri Zrash dengan putra pertama Negeri Ord” Minho mengucapkannya dengan mantab. Terlihat raut serius diwajah tampannya.
Deg
Deg
Deg
Sungguh, jantung Kyungsoo seakan ingin melompat dari tempatnya. Tubuhnya terasa kaku. Matanya yang bulat bertambah bulat dan besar. Bagaimana bisa Appa-nya memutuskan hal sebesar ini tanpa persetujuan darinya. Dan lagi,bagaimana dengan Kris? Bukankah Kris putra mahkota sekaligus calon penerus Negri Zrash? Kenapa bukan Kris saja yang bertunangan?
“Kau tidak perlu sekaget itu, Kyungsoo” Minho menjeda perkataannya. Tangan kokohnya memainkan sebuah cahaya keunguan yang ntah dari mana asalnya. Memutar-mutar cahaya itu seolah membuat pusarang angin kecil disana. “Hal ini sudah direncanakan jauh-jauh hari setelah kami tau kekuatan yang bersarang pada tubuhmu” Minho berkata dengan tangan masih memainkan pusaran angin itu namun matanya tak terlepas dari Kyungsoo.
“Bagaimana bisa? Dan untuk apa aku ditunangkan dengan Jongin?” tanya Kyungsoo seakan tak percaya.
“Untuk memperbaiki hubungan Zrash dengan Ord tentunya. Kami tau kekuatanmu itu bisa menjadi kunci berdamainya dua Negeri ini Kyungsoo” Minho tersenyum.
“Apa itu artinya aku dimanfaatkan?” tanya Kyungsoo dengan nada sendu.
“Tidak Kyungsoo. Ini adalah kesepakatan dari pimpinan terdahulu. Kau hanya perlu mengikutinya dan menyelamatkan kedua Negeri”
“Tapi Appa, bagaimana dengan Raja Joonmyun?” tanya Kyungsoo penasaran.
“Tentu saja dia tau. Kami sudah membahas masalah ini dengan seluruh petinggi kedua Negeri” Minho mengatakan itu sambil mengibaskan tangannya. Membuat pusaran angin kecil keunguan itu hilang begitu saja.
“Persiapkanlah dirimu. Ini akan dilakukan 3 hari lagi. Tao akan menjmput dan mengantarmu ke Negeri Zrash jika saatnya tiba” setelah kalimat itu selesai diucapkan, Minho berdiri dari duduknya. Sedangkan Tao memposisikan dirinya disamping Minho. Dengan sekejap mata Minho dan Tao menghilang setelah pusaran angin keunguan dengan ukuran lebih besar dari yang dimainkan Minho tadi keduanya menghilang.
Kyungsoo masih tak bergeming ditempatnya. Pikiran-piran aneh mulai menjalar dikepalanya. Bagaimana bisa ia bertunangan dengan Jongin yang jelas-jelas membencinya? Apalagi mengetahui Jongin yang bersitegang dengan Kris. Bagaimana kalau Jongin akan menghancurkannya?
“Kenapa aku harus memiliki kekuatan sialan ini, Arrgghh!!!”



TBC



Fic Genre Fantasy saya hadir nih :D
Ceritanya radak maksa.
Cuma pengen tau respon readersdeul, kalau bagus akan saya lanjut. Sebelumnya ini fic udah pernah saya publish di Akun Fb dan FFN. Jadi kalau nemu cerita yang begini, berarti ntu punya saya :D

Jumat, 01 Januari 2016


“BROKEN”

Judul : Broken
Author : Kim Jong Soo 1214
Cast :  Do Kyungsoo (Kyungsoo)
Kim Jongin (Jongin)
Byun Baekhyun (Baekhyun)
Park Chanyeol (Chanyeol)
Kim Joonmyun (Suho)
Dan akan bertambah seiring berjalannya cerita
Genre : Angst, hurt, romance
Rate : T/T+
Lenght : Chaptered

Warning : Yaoi (boyxboy), Typo (s) bejibun, Alur Maju mundur
Disclamer : Cerita ini asli/real dari pemikiran saya. Tidak ada plagiat sama sekali walaupun jalan ceritanya pasaran. Saya hanya meminjam nama tokoh idola saya untuk menulis cerita ini. Karena sesungguhnya mereka hanya milik Tuhan, orang tua, dan SM Ent.

Summary:
Mata bulat itu, mata yang penuh dengan sinar bagaikan pelangi kala senyum menyapa wajahnya.
Senyum itu, senyum yang membawa berjuta ketenangan dalam diri orang-orang yang berada didekatnya.
Penuh dengan kehangatan,penuh dengan keceriaan, dan penuh dengan kelembutan.
Sampai pada hari itu, hari dimana semuanya berubah....


Chapter 1

Seoul November 2015
Seberkas cahaya mentari menerpa dengan hangatnya sesosok tubuh mungil yang tengah duduk ditemani kesendirian dibawah rimbunnya pohon maple. Hembusan angin menyibak lembut surai coklat yang menutupi sebagian wajahnya. Matanya yang bulat perlahan  terpejam seolah menikmati lembutnya terpaan angin dipagi ini. Surya yang tak hentinya memberi kehangatan dan ketenangan dalam dirinya. Balutan piyama khas itu seolah menjadi seragam wajib yang harus ia kenakan setiap hari. Membalut tubuh putih nan mungilnya.
“Kyungi...”
Suara yang terdengar samar menyapa namja manis yang masih setia memejamkan matanya. Tidak ada sahutan. Masih menikmati banyaknya hujaman lembut sang bayu yang menenangkan hati yang tak seorangpun mengetahui kebenarannya. Masih diposisinya. Enggan membuka mata hanya sekedar melihat seseorang yang berdiri disampingnya.
Baekhyun,namja bermata sipit yang selalu setia melihat bagaimana keadaan sahabat yang sudah seperti adiknya sendiri itu. Memandang sesosok mungil yang tengah duduk disebuah bangku kayu dibawah pohon maple dengan mata terpejam. Tak terlihat sedikitpun raut senyum yang mengantarkan kehangatan itu lagi. Baekhyun hanya berani memandangnya dari sini. Dari jarak ini. Tidak dekat,tidak juga jauh. Tapi cukup untuk melihat bagaimana sesosok yang dia sebut adik itu tengah menyembunyikan segala apa yang ia rasakan.
“Bagaimana?”
Sebuah tepukan lembut dibahu Baekhyun seakan mengantarkan kembali kedunia nyata. Setelah pikirannya melayang dan menerawang dari sesosok mungil itu. Tangan kekar dan kokoh itu perlahan mengganti posisinya, merengkuh tubuh yang tak kalah mungil itu kedekapannya. Chanyeol, pemilik tangan itu mengarahkan pandangan sendunya lurus kedepan dimana subyek yang tadi diamati Baekhyun berada. Hanya gelengan kecil kepala Baekhyun dari benaman dada bidang Chanyeol. Ia mengerti,sangat mengerti apa yang tengah dirasakan kekasihnya itu sekarang. Bukan hanya Baekhyun,tapi dirinya juga merasakan kepedihan ini. Melihat sahabatnya yang tak seperti dulu. Kyungsoo yang sekarang tak ubahnya raga tanpa nyawa. Menorehkan luka yang sama dengan apa yang Baekhyun rasakan dihatinya. Sama-sama terluka dengan keadaan sahabatnya itu sekarang.


Seoul November 2013

Puk!
Satu pukulan lembut mendarat tepat dibokong namja mungil yang masih setia meringkuk dibalik selimut hangatnya. Jongin, namja dengan kulit tan eksotis itu kini duduk dipinggir kasur empuk itu dengan gemas. Berusaha membangunkan sesosok yang seperti kepompong dibalik selimut tebalnya. Tak mengurangi senyum manis diwajah tampannya,kembali ia menepuk pelan bokong Kyungsoo dengan lembut. Tidak ingin acara membangunkannya itu malah menyakiti namja manis itu.
“Bangunlah, Baby Soo”
Hening.
Belum ada sahutan dari si namja manis itu.
“Apa kau tidak ingin jalan-jalan bersamaku hari ini?”
Kembali bisikan lembut itu ia ucapkan didekat gundukan diatas bantal,tepat ditelinga pemilik surai coklat itu.
Terlihat sesosok mungil itu menggeliat ditempatnya berbaring. Mulai menyibak selimut tebalnya dari kepalanya. Matanya masih belum terbuka. Namun tak mengurangi manis wajahnya sedikitpun. Pipi gembil putihnya, bibir kissable nya, hidung mancungnya, membuat Jongin tak kuasa menahan gerak tangannya hanya untuk sekedar menyentuhnya. Tangan kokoh itu mengelus lembut  pipi gembil milik kekasihnya itu. Senyum yang tak henti-hentinya ia luapkan. Memandang sosok indah yang masih berbaring disebelahnya.
“Sepertinya kau tidak ingin jalan-jalan denganku, ya?”
Goda Jongin dengan sedikit cubitan dihidung mancung itu.
Dan sukses.
Cubitan kecil  itu berhasil membuat namja manis itu membuka mata bulatnya yang indah.
Satu kedipan.
Dua kedipan.
Jongin tak hentinya mengulas senyum gemas pada Kyungsoo. Oh lihatnya ekspresi bangun tidurnya itu. Seperti bayi yang dengan polosnya merebut hati siapapun yang memandangnya.
“Selamat pagi, Baby Soo” satu kecupan hangat mendarat tepat dikening Kyungsoo yang tertutup rambutnya. Jongin menyibak rambut itu. Memperlihatkan wajah imut Kyungsoo lebih jelas.
“Selamat pagi, Jongin” masih dengan suara seraknya ia mencoba membalas sapaan hangat dari namja tan yang sangat ia cintai itu. Satu senyum manis yang memperlihatkan keindahan bibir kissable nya mengiringi tubuhnya yang berusaha bangkit. Kyungsoo mensejajarkan tubuhnya duduk dihadapan Jongin. Mengucek matanya pelan membiasakan sinar mentari pagi menyapa mata bulatnya.
“Apa tadi malam kau begadang lagi?” suara Jongin menyapa lembut telinga Kyungsoo.
“Iya,aku tidur jam 2 pagi” jawabnya masih setengah malas.
“Kau seharusnya menelphonku. Aku bisa menemanimu, Baby” tangan Jongin mengelus lembut surai coklat itu. Menyalurkan sejuta rasa sayang kepada sosok mungil yang duduk didepannya itu.
“Tidak. Kau ingat terakhir kali kau menemaniku mengerjakan tugas ini? Kau malah mengacaukan semuanya”
“Yak! Aku kan hanya berniat baik” Jongin mempoutkan bibirnya. Dan itu membuat Kyungsoo merasa geli.
“Ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat jelek kalau begitu” sebuat tawa menggema seiring berakhirnya kalimat yang ia ucapkan.
“Tapi kau menyukai wajah jelek ini kan?” godanya, dan sukses membuat rona merah pipi gembil namja mungil didepannya.
“Aku tidak menyukaimu. Tapi aku mencintaimu, pabbo!” satu sentilan didahi Jongin mengiringi rona merah diwajah Kyungsoo yang semakin menjadi. Membuat Jongin tersenyum karenanya. Bagaimanapun juga Jogin adalah orang yang paling menyukai segala ekspresi yang Kyungsoo keluarkan. Apalagi Kyungsoo merona karenanya.
“Segeralah mandi, Baby. Hari ini kita akan bersenang-senang” dengan lembut tangannya menyentuh  pipi yang merona itu. Menampakkan seulas senyum diatas lengkungan indah bibir kissablenya. Tanpa diperintah dua kali kaki kecil itu mulai bangkit dari kasurnya yang empuk. Berjalan mendekati kamar mandi. Jongin tak hentinya mengawasi setiap langkah kecil itu dengan senyuman gemas. Hingga sosok mungil itu hilang dibalik pintu kamar mandi.


SKIP TIME


“Kita kemana Jongin?” suara lembut itu memecah keheningan yang sedari tadi menghiasi suasana dimobil itu.
Jongin mengalihkan pandangannya dari jalan menatap sosok mungil yang dicintainya itu sesaat. Senyum kasih selalu terulas dibibir sexy nya. Menyiratkan berjuta cinta untuk Kyungsoo seorang.
“Nanti juga kau akan tau, Baby” jawaban yang sebenarnya tidak diharapkan Kyungsoo. Selalu seperti ini. Jongin yang penuh kejutan. Kyungsoo suka dengan Jongin yang seperti ini. Tetapi rasa penasaran juga selalu datang bersamaan dengan rasa itu. Bibir mungil itu dipoutkan imut. Membuat Jongin terkekeh geli melihat tingkah makluk indah disampingnya itu.
Mencoba menikmati hembusan lembut semilir angin yang  masuk melalui celah jendela mobil, namja manis itu menutup kelopak matanya. Tidak ingin rasa penasarannya semakin menjadi,Kyungsoo mencoba mengalihakan perhatiannya sendiri.  Senyum manis yang seolah menjadi candu bagi Jongin itu tak hentinya terukir. Menghirup aroma segar jajaran pohon maple yang tinggi menjulang disepanjang jalan menambah nilai keindahan dijalanan yang sepi. Hawa sejuk dan menenangkan ini menjadi satu ketenangan tersendiri dihati Kyungsoo. Kyungsoo suka dengan suasana seperti ini. Tenang dan sepi.  Jauh dari keramaian kota Seoul yang tak hentinya menambah deretan kesibukan setiap harinya. Kyungsoo suka dengan aroma pohon maple yang sejuk. Kyungsoo suka saat dia merasa tenang,maka selalu ada Jongin yang mendampinginya.
Jongin menghentikan mobilnya disebuah jalanan setapak yang sebenarnya bukan untuk mobil. Ditengah padang rumput hijau yang masih menampakkan sisa embun pagi. Tepat didepan sana, terbentang luas pemandangan yang sungguh indah. Hamparan bunga yang beragam memamerkan keindahan warnanya. Jongin turun dari mobil mewahnya. Berjalan menuju pintu diseberang sana,membukakannya untuk Kyungsoo. Jongin melihat bagaimana ekspresi terkejut dari wajah manis kekasihnya itu. Terbukti dengan sebelah tangan kanannya yang menutup bibir kissable itu. Mengungkapkan rasa kagumnya yang berlebih namun  tak dapat terlontar hanya dengan kata-kata. Jongin mengerti bahwa kekasihnya itu sedang bahagia sekarang. Dan kebahagiaan itu berasal darinya.
“Kau suka, Baby?” tangan kokoh Jongin melingkar dipinggang mungil Kyungsoo.
“Aku suka Jongin. Gomawo” satu tetes kristal bening itu mengalir dari kedua belah mata bulatnya. Tidak ada kata-kata. Hanya sebuah air mata haru yang bisa Kyungsoo berikan untuk Jongin. Bukan, Kyungsoo bukan namja cengeng. Hanya saja ia mudah tersentuh dengan perlakuan Jongin yang begitu spesial untuknya. Kyungsoo merasa bahwa dirinya selalu dihargai oleh Jongin.
“Hei...jangan menangis, Baby. Aku mengajakmu kesini untuk bersenang-senang” Jongin mengusap lembut lelehan kristal bening itu dari pipi gembil nan putih kekasihnya.
“Aku terlalu bahagia Jongin. Tidak ada yang memperlakukanku seindah ini sebelumnya, hiks” lolos satu isakan dari bibir mungil itu. Tanpa menunggu menit berjalan, tangan kokoh Jongis merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Diusapnya lembut surai kecoklatan itu dengan sayang. Jongin tersenyum menikmati isakan demi isakan yang Kyungsoo keluarkan. Seolah isakan bahagia itu adalah alunan melodi indah dari surga. Sesekali bibir sexy Jongin mengecup puncuk kepala Kyungsoo dengan penuh cinta.
“Kau mau melihat yang lebih indah dari ini, Baby?” ucapan itu mengiringi tangan Jongin untuk menciptakan jarak diantara kedua tubuh itu. Tangannya menggenggam lembut kedua bahu Kyungsoo. Menjadikan kedua pasang mata itu saling bertemu. Hanya anggukan yang Jongin dapat, namun itu cukup untuk menggambarkan rasa semangat namja mungil itu. Tangan Jongin menuntun tubuh mungil Kyungsoo berjalan disampingnya. Menggenggam tangan yang tidak lebih besar dari milikknya itu. Menautkan rasa cinta yang meraka miliki.
Kedua kaki Kyungsoo menerjang indahnya bunga-bunga yang mencoba menggoda langkahnya. Jongin mengarahkan pandangannya pada Kyungsoo yang berjalan antusias disampingnya.
“Woahh” satu kata itu yang berkali-kali  keluar dari bibir mungil Kyungsoo membuat Jongin terkekeh. Saat sepanjang langkahnya menyentuh bunga-bunga dandelion yang indah menaburkan berjuta manik-manik yang berterbangan.
 “Coba lihat yang ada didepanmu sekarang, Baby” secara otomatis mata bulat Kyungsoo mengarah pada apa yang Jongin perintahkan padanya. Seketika itu juga seakan rahangnya tidak dapat menutup rapat lagi. Hamparan laut biru yang membentang indah. Membuat pemandangan semakin sempurna. Kyungsoo tidak tau bahwa sekarang dia tengah berada disebuah puncak bukit kecil nan cantik. Memperlihatkan panorama lukisan Tuhan yang begitu mengagumkan. Hamparan bunga ini begitu sempurna kala dipandang dengan lukisan laut biru didepannya.
“Jongin... ini sangat indah” mata Kyungsung sudah mulai berkaca-kaca. Kyungsoo berani bersumpah bahwa baru kali ini dia mendapatkan hadiah yang begitu istimewa. Jongin yang sangat tau apa yang dia suka. Ya, inilah yang Kyungsoo suka. Hamparan alam dengan keinahan yang luar biasa. Tempat yang tenang,jauh dari keramaian kota. Sungguh sempurna.
“Aku yakin kau pasti menyukainya” senyum Jongin semakin berkembang kala melihat ekspesi Kyungsoo yang membuatnya bahagia. Sungguh, Jongin tidak pernah menyesal memberikan setitik kebahagiaan pada namjachingu mungilnya ini.
Kyungsoo hanya mengangguk. Pandangan matanya mulai mengabur seiring jatuhnya kristal bening dari bola mata bulatnya. Kyungsoo terlalu bahagia. Rasa haru yang meliputi hatinya seolah mengubah perasaan namjanya menjadi seperti seorang gadis. Terlalu lembut untuk ukuran namja. Tapi Jongin suka itu.
Jongin menarik tangan mungil itu. Menuntunnya berjalan kearah sebuah pohon maple yang tidak terlalu besar. Mendudukan dirinya dibawah rimbunnya pohon itu  dengan nyaman. Jongin menepuk tanah disebelahnya, menandakan agar Kyungsoo mengikutinya duduk disampingnya. Senyum Jongin tidak pernah lepas kala Kyungsoo mulai mensejajarkan tubuhnya disampingnya. Menatap lurus kedepan. Hembusan wangi angin laut seketika menerpa wajah putihnya. Senyumnya mengembang seketika.
Masih menikmati kesunyian yang tercipta diantara keduanya. Sungguh, pemandangan ini begitu sayang bila terlewatkan walau dengan satu kedipan mata. Lama mereka terdiam dengan pikiran kagum masing-masing. Hingga tangan besar Jongin perlahan menyentuh tangan mungil Kyungsoo dengan lembut. Kyungsoo memandang tangannya yang kini dibalut sentuhan lembut Jongin. Senyum dari bibir plum itu terpatri, membuat Jongin tidak tahan untuk mengecupnya. Perlahan Jongin mulai menanggalkan jarak antara keduanya. Mata setajam elangnya menatap seduktif manik mata bulat Kyungsoo. Semakin dekat hingga hidung mereka saling bersentuhan. Jongin menggesekkan hidungnya dengan hidung mancung Kyungsoo membuat sang empunya tersenyum geli. Satu gerakan dan bibir mereka saling menempel. Hanya kecupan ringan. Kedua mata itu mulai terpejam kala bibir Jongin mulai melumat lembut bibir kissable Kyungso. Manis.
Cukup lama pagutan lembut nan manis itu berlangsung  hingga Jongin mulai menjauhkan bibirnya dari bibir kissable Kyungsoo. Mata tajamnya menatap lembut manik mata Kyungsoo penuh arti.
“Saranghae, Kyungie Baby” satu kecupan ringan Jongin sematkan dikening mulus Kyungsoo.
“Nado, Saranghae Kim Jongin” matanya terpejam menikmati indahnya kasih sayang yang Jongin berikan untuknya.
.
.
Bibir plum semerah delima itu tersenyum. Membuat kedua namja yang berbeda ukuran itu – Chanyeol namja tiang listrik dan Baekhyun namja mungil-  memandangnya kaget. Bukan, bukan kaget karena namja mungil yang tengah menjadi objek pengamatan  itu memberi kejutan. Hanya saja  sudah lama senyum itu tidak muncul dari bibir kissable namja bermata bulat itu. Matanya memang masih terpejam, tapi Baekhyun  tau bahwa Kyungsoo sedang merasa bahagia.
“Kau lihat Yeolli, Kyungsoo tersenyum” nada bicara Baekhyun menyiratkan ketidakpercayaan. Sungguh,ini adalah satu kemajuan besar setelah apa yang ia alami selama satu tahun terakhir.
“Iya, Baekki. Aku melihatnya” rahang Canhyeol seakan tidak dapat tertutup rapat lagi. Namun satu lengkungan tertarik dari bibirnya. Chanyeol tersenyum melihat perubahan dari mimik wajah Kyungsoo yang selama ini begitu dingin dan kosong.
“Apa yang membuatnya tiba-tiba tersenyum seperti itu, Yeolli?” pertanyaan bodoh memang. Walaupun Baekhyun tau bahwa Chanyeol tidak akan tau apa yang dipikirkan Kyungsoo saat ini, namun bibir Baekhyun seakan sudah tidak ada remnya lagi. Dan loloslah pertanyaan konyol itu.
“Entahlah, Baekki. Mungkin dia sedang mengenang masa-masa indahnya” jawab Chanyeol penuh keraguan. Tapi mungkin memang begitu yang sedang dirasakan Kyungsoo saat ini.
Setelah ucapan Chanyeol terhenti, satu langkah Baekhyun mulai mendekati Kyungsoo yang masih setia memejamkan mata indahnya. Semakin dekat. Ragu-ragu Baekhyun mulai menggerakkan bibirnya.
“Kyungie...” satu panggilan sayang terlontar dari bibir tipis Baekhyun. Yang dipanggil merespon. Kyungsoo membuka matanya perlahan. Mengarahkan pandangnya kesamping. Kyungsoo menemukan sesosok yang entah mengapa tiba-tiba menjadi satu ancaman untuknya.
“AAARRRGGHHH!!!”

Kamis, 24 Desember 2015

TRUE LOVE (Kaisoo ver)

“TRUE LOVE”
Judul : True Love
Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo
Genre : Angst, hurt (Oneshot)
Rate : T
Author: Kim Jong Soo 1214
Disclamer: Typo bejibun. Author baru. Masih abal.

Summary:
Aku berjalan melewati lorong ini. Lorong sempit ini. sedikit menutup hidungku ketika aroma ini menyengat tajam. Sebenarnya aku tidak menyukainya. Tetapi ada satu alasan dimana aku harus membiasakan dengan aroma ini. Yah,aroma yang selalu mengingatkanku akan seseorang. Seseorang yang telah mencuri hatiku. Seseorang yang selalu memberiku kekuatan. Seseorang yang membuatku mengerti mengapa aku berdiri disini. Ditepi lorong sempit ini, berusaha menjadi penolong untuk orang lain disaat aku tidak bisa menolongmu...




Aku melangkahkan kaki panjangku menyusuri jalan setapak yang mulai memutih. Yah...ini adalah salju pertama yang turun musim ini. Titik-titik salju yang masih belum terlalu lebat turun dengan indahnya. Sejenak aku menghentikan langkahku. Menengadahkan tanganku untuk menagkap satu butiran es yang turun dengan indahnya dari langit. Bagaimana bisa Tuhan menangis saat ini? Apakah Dia merasakan apa yang aku rasakan? Apakah Tuhan mengetahui bagaimana kerinduanku yang seakan membunuhku disetiap detik?
Aku menghela nafas. Menciptakan uap hangat yang keluar dari hidungku. Kembali menurunkan tangan kananku yang tadi menengadah keudara. Tangan kiriku membawa sebucket bunga mawar merah yang merekah indah. Aku menatapnya sebentar. Menampakkan senyum terbaikku. Yah,aku cukup senang bahwa Tuhan mengetahui bagaimana perasaanku saat ini, hingga Tuhan menangis dari atas sana.
Aku mulai melanjutkan langkahku yang sempat terhenti. Berjalan pelan seolah menikmati udara dingin yang tiba-tiba menusuk tulangku. Aku tau udara ini sangat dingin, namun aku tidak mengurungkan niatku untuk memakai pakaian terbaikku hari ini. Setelan jas hitam dengan sepatu formal berwarna hitam. Bagaimana tidak? Hari ini aku akan mendatangi kekasihku setelah sekian lama. Aku sangat merindukannya.
Langkahku terhenti saat tempat yang aku tuju telah berada tepat didepan mataku. Senyuman terbaikku tak pernah lepas dari bibirku.
“Aku datang, hyung. Bagaimana kabarmu? Miane, lama aku tidak mengunjungimu. Kau pasti sangat sebal denganku ‘kan?”
Tidak ada jawaban. Angin yang berhembus pelan seakan menembus berlapis lapis daging ditubuhku. Aku tetap tersenyum. Aku sudah berjanji untuk tidak membuat hyung kesayanganku ini kecewa padaku. Kukeluarkan bucket mawar merah yang tadi berada dibalik punggung tegapku. Mengarahkan kedepan. Menyerahkannya padanya. Bukan, lebih tepatnya menempatkan bucket mawar itu diatas gundukan tanah dengan rerumputan hijau yang menutupi tanah itu. Titik-titik salju mulai memenuhi rumput hijau yang tertata rapi diatas gundukan itu. Sangat kontras dengan mawar merah yang telah tergeletak manis diatasnya. Yah..ini adalah makam namjachinguku.



“Kau sudah datang?”
Dia,namja manis berkulit seputih susu menyambut kedatanganku dengan senyum kecilnya. Aku membalas senyumnya. Langkah ku mantabkan untuk masuk kekamarnya  dan mendekatinya.
“Nde. Bagaimana kabarmu hari ini, hyung?” tanyaku tanpa mengurangi senyumku. Tanganku terangkat untuk meraih pipi gembilnya. Mengelusnya lembut. Menyalurkan sedikit kehangatanku padanya.
“Aku baik-baik saja,Jongin-ah” senyum manis tak lepas dari bibir merahnya. Walaupun aku tau  bahwa dia tidak benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.
Aku cukup mengetahui bagaimana hyung kesayanganku ini. Dia akan berpura-pura tegar didepanku walaupun dia akan menangis sesenggukan pada malam harinya. Entah, aku merasakan ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku selama ini.
 “Syukurlah” aku tersenyum getir menyadari perubahan raut wajah nama manis didepanku ini.
Hening menyelimuti ruangan dengan nuansa putih disetiap sudutnya. Membuatku merasa sedikit canggung. Bagaimana tidak, selama tanganku masih setia mengelus halus pipi gembil milik namja manis ini, tatapan matanya tak lepas dari wajahku. Apakah wajahku terlihat aneh untuknya? Entahlah..
“Jongin-ah,apa kau mau mengantarkanku kesuatu tempat?” tanyanya sedikit ragu.
“Mau kemana, Kyungsoo hyung?” tanyaku sambil menatap tajam mata hitam itu. Aku menangkap tatapan matanya yang  menyiratkan rasa memohon. Membuatku tidak bisa berkata’tidak’ padanya.
.
.
Dan disinilah kami sekarang. Dihalaman belakang Rumah Sakit tempat Kyungsoo hyung dirawat. Aku mendorong kursi roda itu dengan sangat pelan. Menikmati hembusan angin yang menerpa kulit wajahku. Bulan ini sedang musim salju. Udara dingin seolah mengingatkanku untuk segera masuk kedalam ruangan yang lebih hangat. Namun pikiran itu kutepis jauh-jauh mengingat namja bertubuh mungil yang tengah berada diatas kursi roda ini yang memintaku mengantarnya kesini.
Aku menghentikan kursi roda itu tepat didepan taman Rumah sakit. Hanya didepan taman. Karena aku tidak berani membawa tubuh mungil namja itu jauh keluar. Cukup sadar dengan kondisi namja imut itu sekarang.
Setelah cukup puas dengan posisi yang tepat karena Kyungsoo hyung dapat melihat bagaimana salju turun memberikan kesejukan dihatinya. Aku mendudukkan diri dikursi yang berada disamping Kyungsoo hyung. Menolehkan wajahku untuk mengamati bagaimana senyum manis itu terpancar dari bibir mungilnya. Aku tersenyum. Kuangkat tanganku , meraih jaket tebal yang tengah dikenakannya. Membenarkan jaketnya yang belum diresletingkan dengan sempurna agar namja manis itu merasa hangat. Udara begitu menusuk. Dapat kurasakan bagaimana tulang-tulangku terasa seperti membeku.
“Jongin-ah” suara pertama darinya setelah keluar dari kamar rawatnya.
“Emm” hanya deheman yang kuberikan. Menjawab panggilan namja manis itu.
“Apa kau tau, kenapa salju berwarna putih?”
Aku berpikir sejenak dengan pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari bibir mungilnya. Membuatku sedikit merasa aneh dengan situasi yang dia ciptakan.
“Tidak” jawabku singkat.
“Apa kau pernah berpikir bahwa Tuhan itu bisa menangis?”
“Tidak. Kurasa Tuhan hanya tau kesenangan”
“Kau salah Jongin-ah” dia menjeda perkataanya. “Jika kau berfikir bahwa hujan itu adalah tangisan dari para dewa maka kau salah. Karena hujan adalah tangisan dari Tuhan”
Aku mengernyitkan dahiku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. Aku semakin menajamkan pendengaranku dengan mataku yang masih terfokus pada namja yang tengah menikmati rintik salju yang berjatuhan. Bahkan matanya tidak menoleh kearahku sama sekali. Mungkin dia terlalu asik  menikmati suasana ini.
“Kau tau, jika salju akan turun saat musin hujan sudah tidak datang lagi. Itu karena Tuhan masih merasa sedih. Dia ingin menangis tetapi tangisnya ini jauh lebih menyakitkan”
“Kau berfikir bahwa salju adalah tangisan Tuhan, hyung?”
“Emh” matanya masih belum menatapku. Terlihat kosong dan hampa. Aku semakin bingung dengan arah bicaranya. Apa maksudnya dengan hujan dan salju?
“Satu titik salju adalah satu titik air mata Nya  Jongin-ah. Tuhan merasa bersalah dengan manusia. Dia menciptakan begitu banyak manusia dengan beribu kesenangan, berjuta kesedihan, bermiliyar kehidupan, dan bertriliyun kematian” ucapnya dengan nada yang mulai bergetar. Dia menjeda sebentar kalimatnya sebelum dia mlanjutkannya kembali.
“Dia menyesali penciptaaNya dengan tangisNya sebagai hujan. Dan Dia ingin melindungi manusia dengan mengungkapkannya melalui salju yang putih bersih. Semua orang pasti akan mati Jongin-ah. Itu sudah tidak dapat dihindari lagi. Karena Tuhan berfikir, Dia akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah Dia ciptakan” kristal bening meluncur melalui kedua belah pipi gembilnya. Tidak ada isakan disana. Hanya tangisan dalam diam.
“Kau bicara apa, hyung? Kau pasti akan sembuh” kataku mencoba menguatkan hatinya. Aku tau kemana arah bicaranya sekarang.  Ini sudah terjadi sangat lama. Ya,lama bagiku untuk meyakinkankan namja mungil ini agar percaya dengan kemampuan dokter spesialis disini. Sungguh, aku tidak kuat menahan diriku. Kurengkuh tubuh mungilnya yang mulai bergetar. Bukan, dia bukan bergetar karena dingin yang semakin menusuk tulang. Tapi getaran yang dihasilkan dari dirinya yang sekuat tenaga menahan tangis dan isakannya.
Dia mendorong pelan tubuhku. Sedikit memberi ruang untuknya menatap wajahku.
“Ini sudah sangat lama Jongin-ah”
“Tidak, Hyung!” aku mulai meninggikan volume suaraku.
“Aku mohon Jongin-ah. Tinggalkan aku. Aku hanya ingin sendiri. Aku tidak mau membuatmu sakit hati” mata indah itu kembali mengeluarkan kristal beningnya. Aku benci saat-saat seperti ini.
“Aku harus mengatakan berapa kali agar kau percaya, hyung?!
“Aku percaya Jongin. Tapi hatiku berkata lain dengan otakku”
“Kenapa, hyung? Apa kau tidak mencintaiku? Kau anggap apa aku selama ini hyung?!” sungguh aku tidak tahan lagi.
“Aku mencintaimu. Sangat. Bahkan lebih dari diriku sendiri”
“Lalu kenapa, hyung?”
“KARENA AKU AKAN MATI, JONGIN!” dia berteriak dengan segala emosinya. Aku sangat tau bagaimana perasaannya saat ini. Sudah terlalu sering dia mengatakan hal ini. Membujukku agar mau meninggalkannya dan menikahi Luhan, namja manis yang baik hati yang menjadi sahabat dekat Kyungsoo hyung.
“Tidak, hyung. Aku mencintaimu, bukan Luhan!” kutatap tajam mata indahnya. Menyalurkan perasaanku untuk membuatnya percaya bahwa aku sungguh sangat mencintainya.
“Aku tidak akan bisa melihat wajahmu lagi Jongin. Aku akan buta. Dan mati” entah sudah air mata keberapa yang dia keluarkan hari ini. Sungguh, ini sangat mebuat hatiku sakit. Melihat air matanya terbuang sia-sia hanya karena namja brengsek sepertiku yang tidak bisa melindungi hati dan perasaannya. Kurengkuh kembali tubuh mungilnya yang bergetar hebat akibat tangisnya. Aku merasa bersalah. Entah apa yang sudah aku perbuat hingga menyakiti hati namja yang sangat aku cintai ini.
“Percayalah padaku, hyung. Aku akan tetap disampingmu, menamanimu dan menjagamu sekuat yang aku bisa. Aku berjanji” kubisikan kata-kata manis itu ditelinganya. Dia masih terdiam dalam tangisnya. Kulepaskan rengkuhanku perlahan. Melihat bagaimana mata indah itu mengeluarkan kristal bening yang tak juga berhenti mengalir. Kutangkupkan kedua tanganku dipipi gembilnya. Kukecup kedua mata indah itu. Menyesap sisa air mata yang menempel disetiap sudutnya. Dia memejamkan matanya. Menikmati sentuhan lembut yang kuberikan. Kedekatkan wajahku hingga tak ada lagi jarak yang tersisa. Menempelkan bibirku pada belahan manis bibirnya. Kupegang tengkuknya untuk memperdalam ciumanku. Mulai kulumat lembut bibir manisnya. Dia masih diam. Tak ada balasan dari ciuman lembutku. Kurasakan lelehan bening dan hangat meluncur bebas dikedua pipiku. Entahlah, bagaimana bisa air mata ini menetes disaat aku tengah menikmati hangat bibirnya.
Kyungsoo hyung membuka kedua matanya perlahan. Bibir ku masih ketempelkan pada bibirnya. Memberikan lumatan-lumatan halus sarat akan cinta dan kehangatan. Dia melepaskan tautan manis itu. Menciptakan benang saliva antara kedua bibir yang sudah memerah. Dia menatapku tajam. Menghapus air mata yang meleleh begitu saja dari kedua mataku. Entahlah, apakah aku masih pantas menangis dengan segala kebodohanku yang telah melukai hati namja manis didepanku ini. Aku merasakan halus tangannya menyapa kulit pipiku. Hangat.
“Saranghae, Kim Jongin”
Deg
Deg
Deg
Sungguh aku sangat ingin berteriak sekencang yang aku bisa. Bagaimana mungkin ini semua terjadi? Mendengarnya mengatakan kata cinta yang sudah lama tidak dia ucapkan padaku. Bahkan aku sempat ragu apakah dia masih mencintaiku atau tidak. Tapi sekarang, semua keraguanku terjawab. Dia masih sangat mencintaiku. Aku dapat merasakannya.
“Nado, Saranghae Do Kyungsoo” senyuman manis, ah bukan lebih tepatnya aku memberikan senyuman terbaikku saat ini. Melihat bibir mungilnya memperlihatkan senyum tipis. Tapi itu sudah cukup membuktikan seberapa dia mencintaiku.

.
.
“Apa kau marah padaku, hyung? Miane, aku sibuk akhir-akhir ini. Kau tau, sekarang aku sudah menjadi dokter spesialis kanker mata seperti cita-citaku” aku tersenyum cerah menceritakan kisahku pada gundukan tanah didepanku ini. mencoba menyalurkan apa yang aku rasakan padanya. Pada kekasihku yang tengah berada disurga.
“Bagaimana hidupmu saat ini, hyung? Apa kau bahagia? Apa kau makan dengan baik disana? Ahh..aku rindu masakanmu, hyung” setetes lelehan hangat turun dari pipiku. Entahlah,sekian lama sejak kematian Kyungsoo hyung hingga saat ini aku tidak bisa begitu saja melupakannya. Bahkan masakan yang selalu menggugah seleraku, lembut tangannya yang selalu membelai rambutku, hangat bibirnya saat menyentuh bibirku masih sangat terasa hingga saat ini.
Lelehan bening ini tidak dapat aku tahan lagi. Semakin meluncur deras saat kepingan-kepingan memori itu berputar kembali dipikiranku. Bagaimanapun aku sangat mencintainya. Walau kini jarak yang tak kasat mata memisahkanku dan dia. Tak ada kata putus,tak ada kata pisah, hanya jarak. Jarak yang mungkin tidak dapat kutempuh dengan akal dan logikaku. Seberapapu jauhnya itu, aku akan bertahan. Menanti saat pertemuanku dan dia. Seberapapun lamanya. Seberapapun menyakitkannya. Akan kubawa cinta yang hanya untukmu hyung. Akan abadi dalam hatiku. Akan abadi hingga maut memanggilku untuk bertemu denganmu.
“Saranghae, Do Kyungsoo”

END.


Kyaaa...ini FF pertama author yang sukses dibuat dengan genre Angst. Huahh...setelah dibaca berkali-kali tetep aja air mata ini tak bisa terbendung *apasih?
Tinggalkan jejak ne. Gomawo untuk para readers yang mau mampir diblog author. Ini FF masih abal banget. Jadi miane kalau ada yang gak dapet feel nya. Haha... *ketawa nista

WELCOME MY BLOG

Perkenalan diri dulu,oke?

Dina Kartika Wulansari,atau lebih sering dipanggil Dhiena. Kelahiran April 1993. Sangat suka menulis FanFic atau Cerpen dan sejenisnya. Berharap bisa menjadi penulis novel terkenal. Membahagiakan orangtua. Dan masuk Surga tentunya^^

Harapan lainnya,bisa bertemu EXO walau hanya sekali seumur hidup

My sosmed :

Facebook : Dhina Kartika Wulansari
E-mail : dinakartilawulansari@gmail.com